Mudik, Tradisi dan Publikasi

Hari Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri adalah Hari besar Umat Muslim dimana saja berada. Hari Lebaran adalah hari kemenangan bagi Umat Islam dimana selama sebulan penuh telah melaksanakan Ibadah Puasa.

Di Indonesia terutama di Pulau Jawa Hari lebaran adalah hari serba ekstra, dimana Orang untuk merayakan kemenangannya bagi yang berasal dari luar kota harus ekstra mempersiapkan acara mudik atau pulang kampung, atau yang tidak mempunyai rencana mudik harus ekstra menyiapkan segala sesuatu untuk hari lebaran tersebut.

Disini penulis ingin fokus menyoroti tradisi mudik, dimana tradisi ini memiliki nilai yang begitu beragam tergantung sudut pandang melihatnya. Contoh saja dari sudut history kenapa terjadi mudik atau pulang kampung secara serentak menjelang hari raya dan setelah hari raya yang begitu besar ini.

Penulis melihat acara atau tradisi ini saat ini merupakan tradisi yang terus menerus mereka lakukan karena kebiasaan yang dipupuk terus menerus yang memiliki makna plus ataupun minus bagi sipelaku.

Terlepas dari itu sebenarnya tradisi ini muncul karena system yang

diciptakan pemerintah waktu itu sehingga disaat lebaran tiba dan harus bersilaturahmi dengan keluarga yang masih berada dikampung asala mereka, terpaksa harus melakukannya.

Kenapa system yang salah..?

Seandainya saja waktu itu pemerintah tidak memfokuskan pembangunan di kota-kota besar, mereka yang ada di desa atau didaerah terpencil paksti mereka tidak perlu bersusah payah harus mencari mata pencaharian keluar dari daerahnya sehingga mereka tidak perlu repot-repot memikirkan untuk pulang kampung disaat lebaran ini karena mereka udah berada dikampung halamannya dengan pencahariannya ada dikampung halamannya.

Penulis mengutip dari acara talk show di salah satu TV Swasta bahwa acara Mudik sekarang ini udah bergeser secara nilai. Dulu orang berbondong – bondong menuju kampung halaman untuk silaturhami dengan keluarga di kampungnya tapi sekarang nilai itu bergeser. Setuju atau tidak nilai itu berubah menjadi pembuktian diri bahwa mereka memamerkan (Publisitas) apa yang mereka punya atau status sosial mereka di kota. Walau tak jarang dari mereka apa yang mereka dapat/peroleh dari cara-cara yang tidak halal.

Pergeseran nilai ini menunjukan Nilai-Nilai Luhur kemanusiaan Bangsa Kita sudah begitu berkurang.

Pertanyaanya adalah apakah perlu Tradisi ini terus dipertahankan, atau upaya pemerintah udah maksimal kah untuk memeratakan pembangunan sehingga tradisi ini sedikit demi sedikit berkurang, supaya masyarkat

Indonesia lebih makmur karena sadar ataupun tidak Tradisi ini menguras biaya, tenaga dan waktu.

Semoga penilaian ini tidak betul 100 %, paling tidak penulis melihat budaya yang tidak dimiliki negara lain jika tidak perlu dipertahan jika merugikan, dan ambil saja hal – hal lebih bermanfaat. Bukankah bersilaturahmi bisa dilakukan kapan saja. Dan yang paling utama sifat Riya yang memboncengai kita semua bisa hilang perlahan-lahan.

Terakhir, penuslis mengucapkan Minal Aidin Walfaidzin Mohon Ma’af lahir batin, bagi yang menjalani tradisi mudik semoga selamat sampai tujuan, Utamakan keselamatan Anda karena itu yang Utama.

One thought on “Mudik, Tradisi dan Publikasi

  1. memang, budaya mudik ini hanya ada di negara kita saja…mungkin alasan penulis ada benernya…Pembangunan hanya di kota2 besar, sehingga banyak penduduk desa yang kerja di kota..selamat Bermudik Ria, semoga selamat sampai tujuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s