Jika Harus Minum Susu Formula

Jika Harus Minum Susu Formula
Jumat, 12 September 2008 | 02:39 WIB

ASI jelas
asupan terbaik bagi si kecil. Namun, adakalanya kondisi ibu tidak
memungkinkannya memberikan ASI kepada sang buah hati. Pada kondisi
seperti itulah, dengan amat terpaksa orangtua harus rela memberikan
susu formula kepada bayinya.

Apa yang mesti dilakukan ketika
bayi harus berpindah dari ASI ke susu susu formula? Yang pertama harus
diketahui adalah semua susu formula dengan bahan susu sapi memiliki
kandungan yang hampir sama. Dr. Christina K. Nugrahani, M.Kes., Sp.A.,
yang praktik di RS FMC (Family Medical Center) Bogor mengatakan,
“Karena semuanya mengacu pada standar kebutuhan bayi untuk tumbuh
kembang sesuai dengan RDA (Recommended Dietary Association).” Simak
saja keterangan tentang kandungan nutrisi yang tercantum dalam setiap
kemasan susu. Jadi, tak perlu terkecoh dengan beragam promosi tentang
adanya suplemen tertentu, sebab rata-rata semuanya sama saja.

Hal
lain yang patut dipertimbangkan ketika memilih susu formula adalah
harga dan ketersediaan barang, apakah mudah didapat atau tidak.
Tentunya lebih baik memilih produk dengan harga yang terjangkau dan
mudah didapat. Berikutnya adalah memerhatikan kondisi dan kebutuhan si
bayi. Bayi yang alergi terhadap susu sapi tentunya membutuhkan formula
khusus. Untuk itu, yuk mengenal beragam susu formula yang beredar di
pasaran.

MENGENAL BERAGAM SUSU FORMULA

1. SUSU FORMULA DARI SUSU SAPI
Umumnya
susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran berasal dari susu sapi.
Susu sapi adalah salah satu susu pilihan untuk bayi yang tidak memiliki
riwayat alergi dalam keluarga. Alergi akibat susu sapi antara lain
berupa diare. Untuk bayi yang telah berusia di atas 6 bulan susu
formula yang disarankan adalah yang telah mendapatkan fortifikasi zat
besi karena antara usia 4-6 bulan persediaan zat besi pada tubuh bayi
mulai berkurang sehingga perlu mendapatkan tambahan asupan dari luar.
Soal konstipasi/sembelit yang disinyalir akibat fortifikasi zat besi
dapat dikonsultasikan pada dokter dan tidak semua bayi mengalami hal
ini.

2. SUSU HIPOALERGENIK
Bayi-bayi yang
dalam keluarganya memiliki riwayat alergi umumnya akan mengalami alergi
terhadap susu sapi. Karenanya, bayi dengan alergi susu sapi formula
biasa sebaiknya diberi susu sapi dengan formula hipoalergenik
(hidrolisat), yakni susu sapi yang kandungan proteinnya telah
dihidrolisis sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah diolah oleh
pencernaan bayi.

Pencegahan alergi susu sapi pada bayi dapat dilakukan dengan 3 cara, yakni:

Pencegahan premier atau pencegahan yang dilakukan sebelum bayi terpapar
pencetus alergi (dalam hal ini susu sapi). Langkah yang paling tepat
adalah dengan memberikan ASI eksklusif. Jika ibu oleh karena sebab yang
memaksa tak dapat memberikan ASI, berikan susu formulai jenis
hipoalergenik.
– Pencegahan sekunder, yaitu bayi yang sudah terpapar
protein susu sapi tapi belum mengalami alergi kembali diberi ASI atau
ganti mengonsumsi susu hipoalergenik. Di usia batita, anak perlu
diperkenalkan dengan susu sapi agar sistem metabolisme tubuhnya
mengenal protein susu sapi dan secara perlahan toleran terhadap susu
formula biasa.
– Pencegahan tersier, yaitu jika sudah terjadi alergi
terhadap susu sapi sehingga bayi harus mengonsumsi susu formula dengan
protein susu yang terhidrolisis sempurna sehingga mudah dicerna oleh
pencernaan bayi.

3. SUSU SOYA
Susu yang
berasal dari sari kedelai ini umumnya diperuntukkan bagi bayi yang
memiliki alergi terhadap protein susu sapi tetapi tidak alergi terhadap
protein soya. Fungsinya sama dengan susu sapi yang protein susunya
telah terhidrolisis dengan sempurna. Jadi dapat digunakan sebagai
pencegahan alergi tersier. Bayi yang alergi susu kedelai harus beralih
ke susu formula dengan asam amino yang sudah terhidrolisis
(hipoalergenik).

4. SUSU RENDAH LAKTOSA
Susu
rendah laktosa adalah susu sapi yang bebas dari kandungan laktosa (low
lactose atau free lactose). Sebagai penggantinya, susu formula jenis
ini akan menambahkan kandungan gula jagung. Susu ini cocok untuk bayi
yang tidak mampu mencerna laktosa (intoleransi laktosa) karena gula
darahnya tidak memiliki enzim untuk mengolah laktosa. Intoleransi
laktosa biasanya ditandai dengan buang air terus-menerus atau diare.

5. SUSU FORMULA LANJUTAN
Susu
formula lanjutan biasanya mencantumkan keterangan “lanjutan” pada
bagian muka kemasannya. Susu formula lanjutan ditujukan bagi bayi usia
6 bulan ke atas. Tak ada perbedaan yang terlalu mencolok dalam
kandungan nutrisinya. Jumlah kalori yang dihasilkannya juga tidak
berbeda jauh. Tak perlu buru-buru mengganti susu formulanya dengan yang
lanjutan jika stok di rumah masih ada. Memang, kebutuhan kalori bayi
meningkat seiring pertambahan usia. Namun di usia 6 bulan, bayi juga
harus mengonsumsi makanan semipadat pertamanya selain susu untuk
mencukupi kebutuhan kalorinya.

6. SUSU FORMULA KHUSUS
Susu
formula khusus disediakan bagi bayi yang memiliki problem dengan
saluran pencernaannya. Ada bayi yang memiliki gangguan penyerapan
karbohidrat, lemak, protein atau zat gizi lainnya. Pemberian susu
formula khusus ini biasanya atas pengawasan dan petunjuk dokter. Karena
kekhususannya, harga susu ini pun sangat mahal. Juga tidak dijual di
toko umum atau hanya tersedia di rumah sakit dan apotek.

PANDUAN SAJI SUSU FORMULA

Langkah
pertama yang dilakukan untuk menyiapkan susu formula adalah
membersihkan dan mensterilisasi peralatan yang akan digunakan.
Selanjutnya menyiapkan dan menyajikan susu formula. Berikut tahapan
yang dilakukan untuk membersihkan dan mensterilisasi peralatan:

1. Sterilkan peralatan minum bayi. Cuci tangan dengan sabun sebelum melakukan sterilisasi.
2. Cuci semua peralatan (botol, dot, sikat botol, sikat dot) dengan sabun dan air bersih yang mengalir.
3.
Gunakan sikat botol untuk membersihkan bagian dalam botol dan sikat dot
untuk membersihkan dot agar sisa susu yang melekat bisa dibersihkan.
4. Bilas botol dan dot dengan air bersih yang mengalir.
5. Bila menggunakan alat sterilisator buatan pabrik, ikuti petunjuk yang tercantum dalam kemasan.
6. Bila mensterilisasi dengan cara direbus:
– Botol harus terendam seluruhnya sehingga tidak ada udara di dalam botol.
– Panci ditutup dan dibiarkan sampai mendidih selama 5–10 menit.
– Biarkan botol dan dot di dalam panci tertutup dan air panas sampai segera akan digunakan.
7. Cuci tangan dengan sabun sebelum mengambil botol dan dot.
8. Bila botol tidak langsung digunakan setelah direbus:
– Keringkan botol dan dot dengan menempatkannya di rak khusus botol pada posisi yang memungkinkan air rebusan menetes.
– Setelah kering, botol disimpan di tempat yang bersih, kering, dan tertutup.
– Dot dan penutupnya terpasang dengan baik.

Langkah selanjutnya adalah menyiapkan dan menyajikan susu formula. Berikut tahapan yang dapat dilakukan:

1. Bersihkan permukaan meja yang akan digunakan untuk menyiapkan susu formula.
2. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, kemudian keringkan dengan lap bersih.
3. Rebus air minum sampai mendidih selama 10 menit dalam ketel atau panci tertutup.
4.
Setelah mendidih, biarkan air tersebut di dalam panci atau ketel
tertutup selama 10–15 menit agar suhunya turun menjadi kurang lebih 70?
C. Atau gunakan 1 bagian air dingin dicampur dengan 2 bagian air panas.
5.
Tuangkan air tersebut sebanyak yang dapat dihabiskan oleh bayi (jangan
berlebihan) ke dalam botol susu yang telah disterilkan.
6. Tambahkan bubuk susu sesuai takaran yang dianjurkan pada label dan sesuai kebutuhan bayi.
7. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik.
8.
Coba teteskan susu pada pergelangan tangan. Bila masih terasa panas,
dinginkan segera dengan merendam sebagian badan botol susu di dalam air
dingin bersih sampai suhunya sesuai untuk diminum.
9. Sisa susu yang
telah dilarutkan dalam botol sebaiknya dibuang setelah 2 jam. Dalam
suhu udara biasa di ruangan terbuka, susu formula yang belum diminum
dapat bertahan 3 jam. Bila disimpan dalam kulkas dapat bertahan 24 jam.
Hangatkan dengan cara merendam dalam air panas sebelum diberikan.

PERHATIKAN!

*
Cermati kemasan ketika akan membeli susu formula. Apakah memang
diperuntukkan bagi bayi dan usianya? Cermati tanggal kedaluwarsa.
Perhatikan cara menyiapkan dan takarannya.
* Selama memberikan susu
botol, seperti halnya memberikan ASI, hendaknya ada kontak kulit, mata,
dan suara antara ibu dengan bayi. Bersenandunglah atau bercakaplah.
Jangan tinggalkan bayi sendirian memegang botol sambil tiduran karena
dikhawatirkan dapat tersedak.
* Jangan berikan susu ketika bayi belum lapar. Berikan sesuai porsi yang dibutuhkan dan buatkan sejumlah kebutuhannya.
*
Jangan berikan susu formula full cream untuk bayi karena pencernaannya
belum mampu menerima kandungan susu full cream dengan baik.

Utami Sri Rahayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s