Menembus batas, menerobos angan demi akses dengan dunia luar


Sebuah catatan diakhir tahun 2013 mengenai kondisi suatu wilayah di daerah Bogor yang terisolir dan belum mempunyai akses jalan yang layak dari dan untuk ke luar untuk menuju akses jalan besar

Salah satu faktor penunjang perkenomian suatu wilayah adalah terhubungnya akses jalan dari sumber mata pencaharian menuju dunia luar sebagai tempat untuk memasarkan produk, atau untuk menunjukan eksistensi suatu wilayah ke wilayah lainnya. Itu mungkin yang dapat digambarkan makna dari sebuah peradaban yang layak bagi manusia beradab saat ini.

DSC_0000426

Betapa tidak, bagi masyarakat atau warga kampung Pasir Koja desa Cibedung  yang notabene warga Indonesia, yang diwajibkan membayar pajak kepada negara, masih mengalami kondisi yang sangat tragis, yaitu kondisi jalan yang tidak layak untuk akses dari jalan besar menuju ke wilayah tersebut, dan bahkan pada saat itu (Red : Survey November 2013) listrikpun belum masuk sehingga lengkap sudah ketidakadilan yang dirasakan warga tersebut atas kondisi ketidakmakmuran suatu wilayah.

 

blog.jpgUntuk akses jalan lingkungan menuju kampung Pasir Koja, akses yang ada adalah melalui jalan setapak,  membelah pematang sawah dan meneros pinggiran sungai dan menyebrangi sungai yang terbuat dari anyaman Bambu, kemudian menaiki bukit hingga akhirnya sampai ke permukiman warga yang berada di atas bukit.

Menurut pengakuan warga, Kondisi tersebut sudah coba diusulkan melalui rapat-rapat dengan pemerintah desa, namun belum juga ditindaklanjuti, sehingga membuat kondisi warga hanya bisa berharap.

Menurut informasi dari warga sekitar dan pantauan kami dilapangan, ada beberapa rumah sengaja ditinggalkan dan dibiarkan sehingga akhirnya roboh dimakan usia, kondisi tersebut karena tidak ada aksesnya jalan menuju wilayah tersebut, sementara kendaraan bermotor  roda dua pun tidak bisa masuk yang membuat mereka pindah ke lokasi yang dapat dilalui alat transportasi kelas bawah tersebut.

Pada bulan Agustus 2013, pada saat itu ada Program Percepatan Perluasan Pembangunan dan Infrastruktur Pemukiman ( P4IP ) dimana kami bertugas diwilayah Kecamatan Ciawi – Kabupaten Bogor mendata wilayah yang dapat kami fasilitasi untuk program ini. Dari data yang ada dan hasil survey dari tim, maka wilayah tersebut merupakan salah satu titik yang menjadi sasaran pelaksanaan Program Percepatan Perluasan Pembangunan dan Infrastruktur Pemukiman ( P4IP ).

Dimulai dengan kegiatan sosialisasi program dan pendataan wilayah sesuai dengan program yang akan dilaksanakan.  Program Percepatan Perluasan Pembangunan dan Sosialisasi & identifikasi masalah 1Infrastruktur Pemukiman ( P4IP ) ini sebenarnya semua kegiatan infrastruktur, dan kami pada saat itu terfokus kepada kegiatan jalan dan sanitasi berupa pembangunan drainase diwilyah tersebut. Namun yang akan kami soroti adalah pembangunan jalan lingkungan yang membuka akses ke wilayah Pasir Koja di Desa Cibedug, kecamatan Ciawi, kabupaten Bogor.

Diawali dengan proses sosialisasi program dan pengumpulan data, sehingga mengarah ke lokasi pasir koja yang menjadi objek yang akasurveyn difasilitasi dalam pembangunan jalan lingkungan berupa jalan rabat beton dan jembatan sebagai sarana penyambung yang terpotong oleh sebuah sunagai. Kemudian dengan data dan informasi dari masyarakat dan pihak pemerintahan setempat, kami melakukan survey lapangan untuk mengecek kondisi wilayah yang akan kita bangun.

Dari hasil pantauan kami, kodisi kampung Pasir Koja berada di atas bukit, dimana akses menuju wilayah tersebut jalan satu-satunya adalah melalui jalan setapak melalui pematang sawah, dan menyebrangi sungai, kemudian menaiki bukit hingga akhirnya masuk kewilayah kampung Pasir Koja. Wilayah tersebut dihuni oleh beberapa rumah, dan kondisinya cukup baik, walau ada beberapa bangunan yang hanya tinggal puing-puing karena aus ditinggal usia dan roboh karena dibiarkan tidak perpenghuni.

Setelah melakukan survey loSosialisasikasi, dan mengidentifikasi masalah yang ada dilapangan, maka  disepakati bahwa kampung Pasir Koja adalah lokasi yang membutuhkan penanganan dalam hal pembangunan jalan lingkungan dan jembatan untuk menghubungkan ke wilayah tersebut, maka sebagai pelaksana ditingkat masyarakat dibentuk sebuah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dengan nama “ Ciung Wanara “.

Setelah terbentuk KSM, maka kegiatan pelaksanaan pembangunan sarana jalan lingkungan dimulai. Selain kegiatan dilapangan, kegiatan rembug antara Pemerintah Desa, BKM, KSM dan Masyarakat terus dilakukan, selain untuk menggali potensi yang ada berupa sumber daya manusia, sumber daya alam, juga kesiapan masyarakat untuk berswadaya baik berupa materil mapun berupa non materil untuk berjalannya kegiatan tersebut.

Pertama-tama yang drabatibangun adalah jalan lingkungan berupa rabat beton yang posisinya ada dipaling ujung, karena supaya pada pelaksanaan kegiatan baik jalan lingkungan maupun jembatan dilokasi sebelum menuju kampung Pasir Koja tidak teJembatanrusik atau tidak terganggu. Kemudian setelah itu pelaksanaan pembangunan jembatan, yang merupakan jalan penghubung menuju kampung Pasir Koja. Adapun pembangunan jembatan tersebut berukuran panjang  9 rabat betonmeter, lebar  1,5 meter dengan total dana Rp 47.929.000,- dimana 52, 16% berasal dari dana P4IP dan sisanya merupakan swadaya dari Masyarakat. Sementara untuk jalan lingkungan berupa Botanisasi/Rabat Beton dengan panjang 700 Meter dengan total biaya Rp 57.976.000,-  dimana sebanyak 27 % merupakan swadaya dari masyarakat.

Monitoring bersama Desa, PJOK

Dalam proses pembangunan tersebut, kami selain koordinasi dengan pihak pemerintah setempat dalam hal ini pemerintahan desa, kami pun sering koordinasi dengan tingkat kecamatan sebagai Penanggung jawab Operasional Kegiatan (PJOK), karena peran  PJOK sebagai  pengendalian kegiatan ditingkat kelurahan dan berperan sebagai penanggung jawab administrasi pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan di wilayah kerjanya. Atas dasar itu, pihak kecamatan, dalam hal ini PJOK ikut monitoring pelaksanaan kegiatan pembangunan jalan lingkungan dan jembatan di wilyah Pasir Koja tersebut.

monev kabupatenKemudian selain dari pihak kecamatan, dari pihak pemerintah daerah kabupaten Bogor, dalam hal ini satker PNPM-Mandiri perkotaan yang berada di bawah BPMPD ikut monitoring dan evaluasi didamingi oleh Konsultan tingkat Kabupaten.  Dalam monev tersebut selain cek dilokasi kegiatan pembangunan jalan lingkungan dan jembatan, mereka juga menadakan tanya jawab dengan BKM menengai pelaksanaan dan manfaat yang dirasakan sebelum dan sesudah pembangunan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, tidak lupa menyampaikan operasional dan pemeliharaan atas pembangunan tersebut agar tetap terawat sehingga dapat dirasakan dan dimanfaatkan dalam jangka waktu lama.

kegiatan finisSebagai akhir dari catatan ini, apa yang dibangun oleh masyarakat melalui program P4IP yang dilaksanakan di kampung Pasir Koja, Desa Cibedug, kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, yaitu pembangunan jalan lingkungan dan jembatan, akan menjadi moment yang sangat berharga baik kami sebagai pendamping program maupun masyarakat kampung Pasir Koja, Karena impian mereka terlaksana, akses jalan menjadi tersambung dari jalan besar ke lokasi tersebut, walau hanya bias akses kendaraan roda dua.

Akhir kata, apa yang menjadi tanggungjawab kita bersama, kita laksnakan bersama-sama, sehingga tujuan dan harapan bersama tercapai dengan mengendepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi akan menghasilkan manfaat dan kepuasan tersendiri yang tidak bisa ternilai harganya.

Renungan Menjelang Lebaran : Arti Minal ‘Aidin wal Faizin bukan Mohon Maaf Lahir Batin


Dikutip dari : http://blog.al-habib.info

Ucapan ini: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Minal ‘Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin, merupakan ucapan yang biasa disampaikan dan diterima oleh kaum muslimin di hari lebaran baik melalui lisan ataupun kartu ucapan idul fitri. Ada dua kalimat yang diambil dari bahasa arab di sana, yaitu kalimat ke dua dan tiga. Apakah arti kedua kalimat itu? Dari mana asal-usulnya? Sebagian orang kadang cukup mengucapkan minal ‘aidin wal faizin dengan bermaksud meminta maaf. Benarkah dua kalimat yang terakhir memiliki makna yang sama?

Para Sahabat Rasulullah biasa mengucapkan kalimat Taqobalallaahu minnaa wa minkum di antara mereka. Arti kalimat ini adalah semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan. Para sahabat juga biasa menambahkan: shiyamana wa shiyamakum, semoga juga puasaku dan kalian diterima.

Jadi kalimat yang ke dua dari ucapan selamat lebaran di atas memang biasa digunakan sejak jaman para Sahabat Nabi hingga sekarang.

Lalu bagaimana dengan kalimat: minal ‘aidin wal faizin? Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati, kalimat ini mengandung dua kata pokok: ‘aidin dan faizin (Ini penulisan yang benar menurut ejaan bahasa indonesia, bukan aidzin,aidhin atau faidzin,faidhin. Kalau dalam tulisan bahasa arab: من العاءدين و الفاءيزين )

Yang pertama sebenarnya sama akar katanya dengan ‘Id pada Idul Fitri.  ‘Id itu artinya kembali, maksudnya sesuatu yang kembali atau berulang, dalam hal ini perayaan yang datang setiap tahun. Sementara Al Fitr, artinya berbuka, maksudnya tidak lagi berpuasa selama sebulan penuh. Jadi, Idul Fitri berarti “hari raya berbuka” dan ‘aidin menunjukkan para pelakunya, yaitu orang-orang yang kembali. (Ada juga yang menghubungkan al Fitr dengan Fitrah atau kesucian, asal kejadian)

Faizin berasal dari kata fawz yang berarti kemenangan. Maka, faizin adalah orang-orang yang menang. Menang di sini berarti memperoleh keberuntungan berupa ridha, ampunan dan nikmat surga. Sementara kata min dalam minal menunjukkan bagian dari sesuatu.

Sebenarnya ada potongan kalimat yang semestinya ditambahkan di depan kalimat ini, yaitu ja’alanallaahu (semoga Allah menjadikan kita). Jadi selengkapnya kalimat minal ‘aidin wal faizin bermakna (semoga Allah menjadikan kita) bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah). Jelaslah, meskipun diikuti dengan kalimat mohon maaf lahir batin, ia tidak mempunyai makna yang serupa. Bahkan sebenarnya merupakan tambahan doa untuk kita yang patut untuk diaminkan.

Wallahu a’lam.

Kepercayaan dan Kesetiaan Tak Bisa dinilai dengan apapun


Kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang datang dengan tulus dari lubuk hati. Namun kebenaran kadang dibuat semu dan samar seolah susah dibedakan dengan kasat mata. Namun tidak dengan sang Pencipta alam semesta ini, sekalipun samar dimata manusia, Sang Pencipta bisa menunjukan dengan kekuasaannya yang Maha hebat bahkan tidak bisa diprediksi oleh manusia.

Manusia kadang dihinggapi oleh rasa iri, dengki atau sejenisnya, Seseorang yang berhati tidak manusiawi selalu ingin meracuni orang lain, bila perlu orang itu tersingkir jauh demi menghalalkan segala niat busuknya.

Keadilan dan kebenaran muncul tanpa didirekayasa, muncul dihadapan kita semua  seolah membelalakan mata menyapu nurani untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Isak tangis mereka sebagai simbol kepercayaan dan kebenaran sejati menggugah dan membuat aku berpikir, begitu dalam kah arti kehadiran aku diantara mereka, sehingga mereka rela mengorbankan air matanya menetes diantara mata mereka demi aku yang bukan siapa-siapa menurut diriku sendiri. Mungkin bagi mereka aku sangat berarti  sehingga mereka merasa kehilangan ……………..

Alhamdulillah…………….

Ya Alloh aku sangat bangga dan sangat terharu.

Begitu besar harapan dan keinginan bahkan berbekas dihati mereka keberadaan ku selama ini. Aku semakin tak tega meninggalkan mereka, tapi apa daya, karena tugas dan tanggungjawabku kepada pekerjaan aku harus rela meninggalkan mereka.

Temen-temen, Sodara-sodaraku, mohon maáf atas segala kesalahan selama ini. Saya sadar banyak sekali kesalahan yang selama ini saya perbuat, mungkin hanya itu permintaan maáf yang dalam dari aku sebagai insan sosial dan sebagai tenaga pemberdaya, mudah-mudahan dilain waktu kita bisa berkumpul dan bersama-sama membangun desa yang selama ini kita sama-sama impikan.

Perpisahan ini bukan akhir dari pertemuan kita, kalau Alloh menghendaki, Insya Alloh pasti kita bisa bertemu lagi.

Tetep semangat dan terus merajut cita untuk menggapi cita-cita bersama